Akan Ada Gempa 8,9 SR di Padang

Akan Ada Gempa 8,9 SR di Padang. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi gempa yang cukup tinggi selama ini. Wilayah Padang diprediksi akan menghadirkan gempa yang memiliki potensi gempa sangat besar.

Hal itu diutarakan Staf Presiden bidang Penanggulangan Bencana, Andi Arif. Menurut dia, hanya tinggal menunggu waktu Padang akan mengalami gempa yang cukup besar.

"Padang tinggal tunggu waktu saja, akan ada gempa 8,9 SR dan Bandung. Selat Sunda yang banyak diprediksi 8,7 dan sudah diteliti oleh dokter peneliti bisa sampai 9,2 SR," ucap Andi dalam diskusi bertajuk Nusantara, Sebuah Catatan yang Terpenggal di Museum Bank Mandiri, Jakarta, Sabtu (19/8/2011).

Namun, Andi menambahkan, Pemerintah Daerah Padang saat ini sudah siaga untuk mengantisipasi hadirnya gempa bumi dan gelombang tsunami. "Pemerintah Sumatera Barat sudah cukup persiapan untuk mengantisipasi akan terjadinya hal tersebut," lanjutnya.

Selain Padang, kata Andi, terdapat beberapa daerah yang memiliki potensi gempa. Pulau Jawa khususnya Ibu Kota Jakarta juga akan dihadirkan gempa.

"Aceh, Jakarta, Surabaya, dan Sulawesi Tengah. Namun itu semua kita belum teliti lebih dalam lagi tentang gempa itu," tandasnya.

Tsunami Jepang Memecah Es Antartika

Pecahan-pecahan es di Antartika
Tsunami Jepang Memecah Es Antartika. Tsunami di Jepang bulan Maret lalu ternyata telah memecahkan gunung es di Antartika. Ukuran gabungan seluruh pecahan mencapai dua kali Kota Manhattan, Amerika Serikat.

Para peneliti dari NASA berhasil mendeteksi ombak tsunami Jepang bergerak sejauh 13.600 kilometer. Ombak tersebut mencapai daerah kutub selatan 18 jam setelah tsunami di Jepang. Gelombang yang tingginya hanya 30 sentimeter itu membuat gunung es yang berasal dari bongkahan es Sulzberger terpisah.

Selain gelombang, es di Antartika juga diperkirakan memiliki hubungan dengan aktivitas seismik. Saat gempa dan tsunami terjadi, getaran yang timbul cukup untuk membuat retakan pada es Antartika.

Menurut catatan sejarah, es Sulzberger belum pernah beranjak dari tempatnya selama 46 tahun. Baru setelah hingga tsunami Jepang melanda, Sulzberger bergerak. "Di masa lalu, ada peristiwa seperti ini, namun kami masih mencari sumbernya. Sekarang kami tahu ternyata gempa dan tsunami Jepang, salah satu peristiwa terbesar di dalam sejarah, bisa jadi penyebab," jelas spesialis kriosfer, Kelly Brunt.

Setelah tsunami terjadi, Brunt dibantu Emile Okal dari Northwestern University dan Douglas Macayeal dari University of Cicago langsung meneliti pecahan es yang mengambang di laut menggunakan satelit. Setelah melihat lebih dekat dengan bantuan radar European Space Agency Satellite (ENVISAT), ditemukan dua gunung es, salah satunya diperkirakan sebesar Kota Manhattan.

"Ini merupakan contoh bagaimana peristiwa di Bumi ini terhubung satu sama lain walaupun dengan jarak yang sangat jauh. Hal ini juga menjelaskan bagaimana sistem yang sepertinya tidak berkaitan ternyata sangat berkaitan," ungkap MacAyeal.

Ancaman Tsunami, Indonesia Ranking 1 Dunia

Sisa-sisa hantaman tsunami Aceh, 2004
Indonesia menduduki peringkat 1 (pertama) dalam hal Tsunami. Data dan fakta membuktikan, Indonesia adalah salah satu negara yang paling rentan terhadap bencana, dibanding negara-negara lain di dunia.

Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, Indonesia memiliki  berbagai jenis bencana seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, dan kebakaran hutan.

Data dari Badan PBB untuk Strategi Internasional Pengurangan Resiko Bencana (UN-ISDR) menyebutkan bahwa dalam paparan terhadap penduduk atau jumlah manusia yang ada di daerah yang mungkin kehilangan nyawa karena bencana, Indonesia sangat tinggi risiko bencananya.

Untuk bencana tsunami, Indonesia menempati ranking pertama dari 265 negara di dunia, dengan jumlah 5.402.239 orang yang akan terkena dampaknya. "Untuk bencana tanah longsor, Indonesia juga ranking pertama dari 162 negara dengan 197.372 orang terdampak," kata Sutopo, Rabu 10 Agustus 2011.

Untuk bencana gempa bumi, Sutopo menambahkan, Indonesia adalah rangking ke 3 dari 153 negara dengan 11.056.806 orang terdampak. "Untuk bencana banjir, Indonesia rangking ke 6 dari 162 negara dengan 1.101.507 orang terkena dampaknya," tambah dia.

Sementara, berdasarkan data Risk Profile yang dimuat dalam situs Prevention Web, Indonesia relatif aman dari bencana kekeringan, yakni menempati ranking 36 dari 184 negara. Sementara, untuk bencana angin topan, nusantara menduduki peringkat 67 dari 89 negara.

Tak hanya dampak pada manusia, bencana juga menimbulkan dampak ekonomi. Misalnya, ketika tsunami Aceh menerjang pada 2004. Saat itu, kerusakan dan kerugian ekonomi akibat bencana ditaksir mencapai Rp39 triliun.

Indonesia juga harus kembali menanggung kerugian ekonomi setelah berbagai bencana melanda wilayah ini. Catatan BNPB menemukan, gempa bumi Yogyakarta dan Jawa Tengah pada 2006 menyebabkan kerugian dan kerusakan senilai Rp27 triliun, banjir Jakarta pada 2007 (Rp4,8 triliun), gempa bumi Sumatera Barat pada 2009 (Rp21,6 triliun), dan erupsi Merapi pada 2010 di luar dari dampak lahar dingin sebesar Rp3,56 triliun.

"Bandingkan dengan kebutuhan untuk membangun Jembatan Suramadu sekitar Rp4,5 triliun dan kebutuhan JORR tahap II sepanjang 122,6 kilometer senilai Rp5 triliun. Artinya dampak bencana tersebut menurunkan laju pembangunan," kata Sutopo.

Padahal, ujar Sutopo, kemampuan pemerintah mengalokasikan dana cadangan penanggulangan bencana setiap tahun hanya sekitar Rp4 triliun. Terlebih lagi dana tersebut digunakan untuk mengatasi semua bencana besar maupun kecil yang terjadi di seluruh Indonesia.

Awan Berlafal Allah Muncul di Gunungkidul

Awan bertuliskan Allah
Sebuah gumpalan awan yang berlafalkan Allah terlihat di Kecamatan Ponjong, Gunungkidul, Yogyakarta. Salah seorang warga berhasil mengabadikan fenomena unik menjelang bulan ramadan ini.

Menurut Aditya, salah seorang yang melihat awan berlafal Allah, saat akan melihat pertandingan sepakbola di Kecamatan Girisubo. Fenomena awan berlafal Allah terlihat jelas di Desa Gombang, Ponjong, fenomena itu berlangsung selama dua menit.

“Saat berjalan saya melihat awan aneh itu, lalu berhenti untuk mengabadikan,” kata Aditya, Sabtu (23/7/2011).

Adit mengaku kaget karena lafal Allah terlihat jelas di sisi barat langit yang diperindah dengan cahaya matahari saat menjelang sore. “Semoga ini pertanda baik,” imbuhnya.

Hal senada juga dikatakan oleh Catur warga Wonosari yang kebetulan melintas. Dia merasa beruntung sekali bisa menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah. Seumur hidup, dia baru pertama kali melihat fenomena ini.

“Seumur hidup saya baru pertamakali ini melihat awan yang membentuk lafadz Allah. Semoga fenomena ini memberi tanda-tanda kebaikan untuk bumi ini yang sudah semakin parah dirusak tangan-tangan manusia,” pungkasnya.

Di Bawah Kutub Ada Deretan Gunung Berapi.....!!!!

Deretan 12 gunung berapi di kutub selatan

Dibawah Kutub Ada Deretan Gunung Berapi. Telah ditemukan 12 gunung api yang berlokasi di bawah lautan beku di kawasan Kutub Selatan. Beberapa gunung api tersebut masih aktif. Selain itu, tim ekspedisi juga menemukan kawah berdiameter 5.000 meter yang diduga terbentuk akibat letusan gunung berapi.

Rangkaian gunung berapi bawah laut ini terbentang di South Sandwich Islands. Letaknya terpencil dan air laut di atasnya sebagian tertutup salju. Phil Leat dari British Antarctic Survey mengaku, mereka sendiri terkejut akan penemuan itu. "Masih banyak rahasia gunung berapi di bawah laut yang belum bisa kita pahami," katanya.

Puncak-puncak gunung tidak terlihat dari permukaan laut. Mereka baru terlihat dengan bantuan perangkat pemetaan tiga dimensi. Meskipun demikian, peneliti yakin yang mereka temukan memang gunung berapi. Tim British Antarctic Survey menggunakan teknologi pemetaan yang terpasang di kapal RRS James Clark Ross. Ini merupakan penemuan gunung berapi bawah laut untuk kali pertama di kawasan tersebut.

Leat menyebut penemuan ini penting karena bisa membantu untuk memahami kejadian terkait letusan gunung berapi bawah laut. Mereka juga bisa mengenali potensi bahaya yang akan terjadi. "Teknologi pemetaan bawah laut yang ada sekarang ini tak cuma menyuguhkan sepotong cerita tentang evolusi planet bumi, tetapi memberi petunjuk mengenai seberapa bahaya ancaman yang ditimbulkan," jelas Leat.

Selain itu, para peneliti juga tertarik untuk menelaah keanekaragaman kehidupan di wilayah sekitar gunung api bawah laut tersebut. (National Geographic Indonesia/Gloria Samantha)

Tiga Hal Bikin Otak Cepat Menyusut

Ilustrasi Otak Manusia
Tiga Hal Bikin Otak Cepat Menyusut. Hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh para ahli menegaskan mengapa Anda harus segera berhenti merokok, mempertahankan berat badan ideal, menjaga gula darah dan tekanan darah.

Menurut studi para ahli, tiga faktor risiko  yakni merokok, diabetes dan obesitas  dapat menyebabkan otak Anda cepat menyusut di usia pertengahan bahkan memicu gangguan mental hingga sepuluh tahun kemudian.

Ini adalah hasil kajian terhadap 1.352 relawan rata-rata berusia 54 tahun dalam penelitan bertajuk Framingham Offspring Study sejak tahun 1971. Para peneliti dari University of California menemukan bahwa merokok, tekanan darah tinggi, diabetes terkait dengan perubahan pembuluh darah yang berpotensi membahayakan otak.

"Kita tak dapat menyembuhkan atau mengobati penyakit penuaan, tetapi mendorong masayarakat memiliki tubuh sehat dan pikiran sehat adalah penting," ungkap Dr. Charles DeCarli direktur UC Davis 'Alzheimer's Disease Center'.

"Masyarakat harus berhenti merokok, mengontrol tekanan darah mereka, mencegah diabetes dan menurunkan berat badan," tambah peneliti yang mempublikasi risetnya dalam jurnal Neurology edisi 2 Agustus 2011.

Dalam studi ini, relawan diharuskan menjalani pemeriksaan tensi, kolesterol dan diabetes. Relawan juga diukur massa tubuh dan lingkar pinggangnya. Mereka kemudian menjalani scan magnetic resonance imaging (MRI) otak dalam selang waktu 10 tahun. Scan MRI yang pertama dilakukan sekitar tujuh tahun setelah pemeriksaan awal faktor risiko.  Peserta yang mengalami stroke dan demensia saat pemeriksaan awal tidak dilibatkan lagi dalam penelitian. Dari hasil scan pertama dan terakhir terungkap, 19 peserta mengalami stroke dan dua lainnya mengalami demensia.

Peserta yang tensinya tinggi menunjukkan hasil penurunan lebih cepat dalam hasil kemampuan otak, yakni tes perencanaan dan pembuatan keputusan. Hal ini berkaitan dengan percepatan lebih tinggi dalam hal kerusakan di daerah pembuluh darah otak dibandingkan mereka yang tekanan darahnya normal.

Mereka yang mengidap diabetes pada usia pertengahan mengalami penyusutan lebih cepat di bagian hippocampus daripada yang tidak punya diabetes.  Mereka yang merokok kehilangan volume otak secara umum dan penyusutan di bagian hippocampus yang lebih cepat dibandingkan nonperokok, serta mengalami kerusakan pembuluh darah di otak yang lebih cepat.

Sementara itu, peserta yang obesitas di usia pertengahan cenderung berada dalam 25 persen peserta yang mengalami penurunan cepat dalam tes fungsi eksekutif. Mereka dengan rasio pinggang-panggul tinggi cenderung masuk di antara 25 persen peserta yang mengalami penurunan volume otak yang lebih cepat. (M05-11)